MENSTIMULUS KREATIVITAS IBU DAN ANAK

•31 Mei 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

 

anak yang kreatif

Anak kreatif bukan dilihat dari apa yang mereka lakukan, melainkan cara mereka melakukannya.

Cerdas saja dirasa kurang untuk meraih keberhasilan atau memecahkan masalah. Anak juga harus kaya ide dan kreatif, selain memiliki kematangan emosi. Yang menjembatani antara tahap pengelolaan kognisi dan tahap eksekusi agar memiliki prestasi atau hasil yang meyakinkan adalah kreatifitas .Bagaimana orang tua mendidik anak agar memiliki kreativitas adalah susah-susah gampang .

Psikolog perkembangan anak Universitas Paramadina, Alzena Masykouri MPsi, mengatakan, kreativitas adalah istilah yang sangat sering digunakan dalam dunia pengasuhan dan juga pendidikan . Secara definitif, awalnya kreativitas mengacu pada kemampuan seseorang untuk menghasilkan suatu karya yang belum pernah dipikirkan dan dibuat orang lain (orisinil) juga bermanfaat. Kini istilah kreativitas sudah semakin meluas maknanya. Kreatif dan kreativitas lebih mengacu pada pada kemampuan membuat sesuatu yang bernilai seni atau melakukan hal-hal yang tidak biasa dilakukan oleh kebanyakan orang.

Menurut Sri Syamsiah,Amd.OT, terapis okupasi dari klinik perhimpunan peduli anak, anak yang kreatif adalah anak yang bermain secara fungsional artinya mampu mengembangkan permainan dan juga menciptakan metode baru dalam permainan tersebut. Anak kreatif juga cenderung eksploratif dan dinamis, tidak selalu terpaku pada pola rutin atau satu pola saja. ”Umumnya anak kreatif cenderung fleksibel dalam cara berpikirnya,” katanya.

Alzena menjelaskan, kreativitas merupakan salah satu aspek kecerdasan. Namun,tak semua anak cerdas dikatakan kreatif. Anak dengan nilai IQ tinggi tak selalu memiliki kreativitas yang tinggi. Tes IQ mengukur pemikiran konvergen, yaitu anak berpikir hanya pada satu jawaban yang benar saja .

Jenis pemikiran ini diperlukan untuk proporsi yang amat besar dari tugas sekolah. Anak yang ber-IQ tinggi cenderung mendapat hasil yang baik di ujian sekolah. Sri menambahkan, anak cerdas belum tentu kreatif namun anak kreatif sudah pasti cerdas. Karena semakin banyak anak melakukan sesuatu yang bisa menstimulasi otak,maka kemampuan memori dan kognitifnya pun akan terus terasah. ”Besar kemungkinannya anak kreatif juga pandai di sekolah,” kata ahli terapi yang juga berpraktek di klinik Akita ini.

Berpikir Lateral

Kreativitas berkaitan dengan kemampuan berpikir divergen (devergent thinking). Yaitu kemampuan untuk berpikir, dari berbagai macam sudut pandang, memikirkan berbagai kemungkinan yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan suatu permasalahan (berpikir lateral). Dengan kemampuan ini, anak memiliki berbagai cara penyelesaian saat menghadapi persoalan. ”Mungkin saja cara yang dipikirkannya belum pernah terpikir dan dicoba orang lain, sehingga berpotensi sebagai anak yang kreatif,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Alzena , selayaknya kecerdasan, kreativitas biasanya menonjol pada suatu area tertentu dan bidang lainnya yang berkaitan. Bidang non-eksakta bisa memberikan kesempatan yang lebih luas dalam penerapan kreativitas, misalnya bidang seni. Meskipun bidang eksak pun membutuhkan kemampuan berpikir divergen dan kreativitas dalam langkah-langkah penyelesaian masalahnya. Untuk dapat menyelesaikan persoalan matematika yang rumit, dibutuhkan kemampuan berpikir divergen dan kreativitas dalam menciptakan langkah-langkah penyelesaian.

Menurut Dorothy Einon, psikolog dari Universitas Colloge, London,dalam bukunya Creative Child, kreativitas pada anak bukanlah didapat dari sumbangan genetik orang tua atau keluarganya. Namun, budaya pola pengasuhan anak serta lingkungan yang memelihara keterampilan kita bisa diturunkan pada anak. Sayangnya, sering kali lingkungan menghalangi kreativitas anak, dan berulang terus.

Alzena menjelaskan, sejalan dengan kemampuan berpikirnya, anak dapat mulai distimulasi dan mengembangkan kemampuan berpikir divergen serta kreativitasnya mulai dari usia 2 tahun.

Pada usia tersebut, kondisi otak anak mulai mengalami peningkatan sampai 70-90 persen dari berat otak manusia dewasa. Di masa ini anak mengembangkan keterampilan yang bervariasi, termasuk di dalamnya kemampuan berpikir logis dan imajinasi. Dua kemampuan ini sangat berperan penting dalam berkembangnya kreativitas.

Menurut Alzena, berpikir konvergen berkembang secara alami, sedangkan divergen tidak berkembang dengan sendirinya. Namun, dengan bantuan dari lingkungan, yaitu orang tua dan metode pengasuhannya. Tugas orang tua yang paling penting adalah memberikan fasilitas dan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya sesuai dengan tahapan perkembangan yang dimiliki. Berikut ini adalah kegiatan yang dapat dilakukan orang tua dalam mengembangkan kemampuan berpikir sekaligus kreativitas anak sesuai tahapan usianya.

Usia Prasekolah (2-5 tahun)

Alzena mengatakan, tugas utama dari anak-anak usia prasekolah adalah bermain. Melalui aktivitas bermain anak mempelajari berbagai konsep dasar yang akan sangat berguna dalam menjalani pendidikan formal kelak. Dengan bermain, kemampuan berpikir anak dikembangkan. Salah satunya dengan bermain pura-pura (make believe play).

Beri kesempatan pada anak untuk bermain pura-pura. Sediakan alat-alat yang menunjang permainan pura-pura. Tidak perlu mahal atau baru. Gunakan yang ada di sekitar kita. Sepatu ayah yang sudah tidak terpakai, kalung manik-manik ibu yang sudah ketingglan mode, panci bocor dari dapur, semuanya bisa menjadi alat permainan yang menarik bagi anak. Kotak-kotak bekas produk makanan pun bisa menjadi gedung atau benteng yang menarik bagi anak. Silinder bagian dalam tisu gulung pun bisa jadi teleskop seru bagi anak.

Ajak anak untuk bermain bersama. Pancing dengan topik menarik, misalnya perjalanan ke luar angkasa atau berkelana di padang pasir. Beri kesempatan pada anak untuk mengemukakan ide-idenya. Di sini saatnya orang tua hanya menjadi pengamat. Jangan kendalikan anak untuk bermain sesuai kehendak kita . Biarkan, tahankan diri anda untuk mengomentari. Beri kesempatan anak berimajinasi secara bebas. Bila perlu, pancing imajinasi dan kemampuan berpikir anak dengan pertanyaan. Biarkan mereka menjelaskan jawabannya.

Sikap menerima anak apa adanya dan bersikap sebagai fasilitator akan sangat bermanfaat bagi anak dalam mengembangkan kemampuannya untuk melihat berbagai kemungkinan dalam menyelesaikan persoalan. Jangan lupa, beri penghargaan atau pujian yang konstruktif setiap kali anak menunjukkan kemampuannya.

Usia Sekolah (7-12 tahun)

Alzena menjelaskan, suasana yang menunjang perkembangan kreativitas anak adalah perasaan bebas pada anak untuk mengemukakan pendapatnya. Ciptakan kebiasaan untuk bertanggung jawab. Anak-anak bebas untuk mengatakan apa yang ingin dikatakan atau menantang pendapat, tetapi dengan tetap menghormati pendapat yang diajukan orang lain. Beri pula kesempatan dan fasilitas bagi mereka untuk mencari referensi yang mendukung pendapat mereka.

Anak perlu diberi semangat untuk berpikir kreatif dan mengeksplorasi berbagi situasi atau kemungkinan atas suatu persoalan. Metode brainstorming atau mind mapping merupakan salah satu cara untuk mengembangkan kemampuan berpikir kreatif. Biarkan ide-ide mereka tampil secara bebas, tanpa kritikan.

Lakukan diskusi dengan tema-tema yang menarik. Misalnya, apa yang akan terjadi di dunia bila manusia bisa terbang? Atau apa yang akan kita lakukan kalu adik bayi jadi dinosaurus?

Menciptakan Dunia Anak

Membuat kostum ksatria:

 Cara membuat:

 A. Buat pedang yang aman dari surat kabar yang digulung.

 B. Buat perisai dari kotak kardus bekas.Potong bagian sisi kardus kemudian bentuk menjadi sebuah perisai. Buat celah di bagian tengah lembar karton tersebut sebagai pegangan tangan anak.

 C. Buat baju perang sederhana dari dua bagian karton yang dihubungkan dibagian bahu . Menggunakan pita. Potong lengkungan untuk leher dan lengan. Lalu cat dengan warna abu-abu atau perak.

Yang dipelajari anak:

 Membangkitkan imajinasi anak serta meningkatkan keterampilan menuturkan cerita, mengekspresikan diri, dan komunikasi.

Ekspresi Lewat Seni Musik

Simfoni botol selai:

 Cara membuat:

• Carilah enam buah botol selai atau gelas.

• Masukkan air dalam volume yang berbeda-beda ke dalam masing-masing botol.

• Tunjukkan pada anak cara mengetuk setiap botol dengan sendok kayu untuk mengeluarkan not bunyi.

Yang dipelajari anak:

Anak bisa mengubah jumlah volume air untuk mengubah not dari botol sesuka hatinya . Biarkan anak Anda menyetel botolnya. Melalui permainan ini anak dapat mengekspresikan dirinya melalui musik serta mendorong kreativitasnya ketika ingin menghasilkan alunan nada yang di inginkan.

Dengan mempunyai kreativitas, anak akan tumbuh menjadi anak yang berani, percaya diri, memiliki rasa ingin tahu yang besar, dan mudah membuat keputusan yang sesuai saat menghadapi suatu masalah. Berikut tips bagi orang tua untuk mengembangkan kemampuan anak berpikir kreatif.

1. Memilihkan jenis mainan yang sesuai keinginan anak, terutama yang merangsang kemampuan anak berimajinasi, misalnya Lego.

2. Memberikan media atau permainan sebanyak-banyaknya.

3. Berikan penguatan dan dukungan untuk hal-hal baru yang ditemukannya.

4. Gunakan metode Mind Mapping karena akan mempunyai gambaran atau rencana dalam membuat hasil karya sehingga mampu bekerja secara terstruktur.

repost dari blognya seseorang yang aku lupa siapa, maaf yaaa…:)

Strategi Untuk Membantu Anak Mengelola Rasa Takut

•31 Mei 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

afraid…

Perasaan takut merupakan salah satu bentuk emosi yang harus dihadapi anak dalam kehidupan sehari-hari. Rasa takut dianggap sebagai emosi yang negative, walaupun sebenarnya rasa takut bisa membantu kita untuk menyadari dan merespon bahaya. Akan tetapi jika rasa takut dan cemas tersebut dibiarkan berlarut-larut dapat membuat hidup anak menjadi sulit. Akibatnya anak jadi  susah makan, susah berkonsentrasi, sering ngompol tatau tidak bisa menikmati bermain dengan tenang dengan teman-temannya.Setiap anak pastilah mempunyai rasa ketakutannya tersendiri. Penyebab ketakutan-ketakutan itu juga pasti berbeda-beda. Sebagai orangtua tentu diharapkan untuk membantu anak mengatasi rasa takut anak dengan mencari pemicu rasa ketakutan anak tersebut. Setelah mengetahui pemicu ketakutan anak, orangtua perlu membantu anak untuk mengatasi rasa takutnya agar anak tidak merasa sendirian dalam menghadapi perasaan yang mengganggunya tersebut. Berikut strategi yang bisa digunakan orangtua untuk mengelola rasa takut anak.

1. Menumbuhkan Keyakinan Anak Pada Tuhan.

 Orangtua bisa mendengarkan ketakutannya dan membimbing anak untuk mengatasi masalah tersebut secara spiritual dengan membantu anak selalu mengingat Tuhan.

2. Membantu Anak Memisahkan Kenyataan Dengan Imajinasi

 Ketakutan anak yang bersifat Imajinatif bisa diatasi dengan mengembangkan percakapan yabg positif dengan anak. Misalnya anak takut pada badut beri anak pengertian dan contoh kenapa teman-temannya tidak takut pada badut, bahwa badut itu tidak  menyeramkan, tidak berbahaya dan tidak bisa menyakiti anak.

3. Membantu Anak Menghadapi Masalah Nyata dalam Skala Yang Aman

 Tunjukkan pada anak bahwa kebanyakan hal yang ia takutkan sebenarnya sama sekali tidak menyeramkan dan tidak berbahaya.

4. Menekankan Pada Anak Bahwa mengekspresikan Perasaan Bukanlah Sesuatu Yang Salah.

 Kebanyakan anak sulit membicarakan perasaannya karena anak-anak sangat sensitive terhadap respon orang dewasa ketika anak menunjukkkan perasaannya.  Hal seperti ini tidak sehat terhadap perkembangan jiwa anak. Orangtua perlu menekankan pada anak untuk menceritakan setiap perasaannya tanpa perlu merasa takut. Katakan pada anak bahwa dengan mengungkapkan perasaan akan membuat anak semakin cepat merasakan lebih baik.

5. Mendorong Anak untk Menuliskan atau Menggambarkan perasaannya

 Rangsanglah anak untuk menuliskan atau menggambarkan hal-hal buruk apa saja yang ia bayangkan sehubungan dengan rasa takutnya. Kemudian mintalah anak membayangkan dan menggambarkan dirirnya dapat menghadapi ketakutannya dengan sukses. Pajang Gambar tersebut ditempat yang mudah ia lihat supaya anak termotivasi untuk mengatasi rasa takutnya.

6. Menyiapkan Benda Yang Dapat Membantu Anak Mengatasi Rasa Takutnya.

 Orangtua bisa meminta anak menyimpan atau membawa apa saja yang dapat membantu anak mengurangi rasa takutnya. Misalnya menyuruh anak membawa dan menyimpan foto orangtuanya sebagai pengingat saat anak hendak ditinngal orangtua pergi keluar kota.

7. Membantu Anak Melawan Ketakutannya dengan Memberi Pengetahuan

 Berilah alasan kenapa hal-hal yang ditakutinya itu tidak perlu ditakutkan, beri anak keterangan. Namun tetaplah berhati-hati dan mengutamakan keselamatan aank

8. Mintalah Anak Menarik Nafas Dalam-dalam Saat Takut atau Gugup

 Ajarkan anak cara-cara untuk menenangkan diri dan mengendurkan ketegangan dengan menarik nafas dalam-dalam saat takut atau gugup.

9. Membantu Anak Berpikir Positif dan Berilah Pujian

 Berilah semangat pada anak untuk berpikir positif daripada membayangkan kemungkianan terburuk. Beri anak keyakinan bahwa ia mampu mengatasi rasa takutnya. Berilah pujian saat anak dah berhasil mengatasi rasa takutnya.

10. Jadilah Contoh

 Orangtua merupakan contoh bagi anak-anaknya. Orangtua tidak boleh panik bila menghadapi suatu situasi social karena anak-anak akan meniru kecemasan orangtua.

11. Perhatikan Apa yang Anak Lihat dan Baca

 Orangtua hendaknya mendampingi anak ketika anak menonton televisi atau membaca buku. Pilihlah tayangan-tayangan dan buku-buku yang mendidik. Jelaskan gambar-gambar atau cerita-cerita yang menakutkan bahwa itu hanya rekayasa atau bohongan atau tidak benar-benar terjadi.

12. Mintalah Bantuan Ahli jika Dirasa Kasusnya Lebih Berat

Mengatasi ketakutan tidaklah mudah. Orangtua tidak bisa mengharapkan hasil instan dan jangan memberi cap anak penakut atau pengecut. Jika dirasa ketakutan yang dialami anak serius  jangan segan-segan meminta bantuan ahli (psikolog, psikiater, konselor atau terapis) karena para ahli dapat mengenali masalah-masalah anak dan menyarankan solusi yang tepat.

Sumber: “ MembantuAnak Balita Mengelola Ketakutannya”. Dr. Seto Mulyadi, M. Psi

Prinsip Utama Mengelola Emosi Anak

•31 Mei 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

learn quran

Anak adalah amanah dari Alloh, maka didiklah dia dengan sebaik-baik pendidikan. dan sebaik-baik pendidikan adalah dengan mengajarkan Al Quran kepadanya

Anak memerlukan bimbingan orangtua dalam mengelola emosinya. Orangtua berperan untuk membantu perkembangan emosional anaknya. Orangtua harus bisa menjadi contoh dan tauladan bagi anaknya. Kasih sayang orangtua membantu mencerdaskan emosi anak. Akan tetapi kasih sayangpun perlu diimbangi dengan pola asuh yang cerdas pula supaya anak bisa tumbuh sebagai individu yang bukan hanya cerdas otaknya tapi juga cerdas emosinya. Berikut ini prinsip-prinsip utama yang harus diterapkan orangtua dalam mengelola emosi anak:

Tidak Ada Perasaan Yang Salah

Reaksi emosional anak sebenarnya sangat manusiawi, perasaan marahnya merupakan reaksi kimiawi tubuh sama seperti reaksi-reaksi tubuh lainnya seperti rasa mengantuk akibat kurang tidur, rasa sakit akibat tertusuk benda tajam dll. Biasanya reaksi tersebut berdasarkan atas yang dirasakannya.  Pada anak marah merupakan reaksi emosi yang paling sering ditunjukkan  dibanding reaksi yang lain. Misalnya saja rasa iri antara adik dan kakak. Perasaan iri tersebut sebenarnya sama besarnya yang membedakan adalah kemampuan masing-masing dalam mengendalikan emosinya.

Mengungkapkan Perasaan Secara Bijak

Mengungkapkan perasaan bertujuan untuk mengurangi tekanan distruktif pada diri sendiri. Kemampuan anak dalam  mengungkapkan perasaan terkait dengan kemampuan anak mengendalikan diri.  Untuk mengungkapkan perasaan akan lebih baik dengan mendinginkan kepala terlebih dahulu sampai emosi reda baru kemudian menyampaikan apa yang kita rasakan dan penyebabnya untuk mendiskusikan solusinya.

Meletakkan Harapan Sesuai Kemampuan Anak

Anak-anak memiliki keterbatasan pemahaman maupun control terhadap dirinya. Harapan Orangtua hendaknya disesuaikan dengan pola perkembangan anak sesuai dengan usianya. Anak usia 2 th perbendaharaan katanya kurang sehingga anak lebih banyak mengungkapkan amarah dengan memukul, menangis, membanting dll, berbeda dengananak usia 3-5 th. Di usia ini anak sudah bisa diajak mengungkapkan perasaan marahnya karena anak dudah lebih banyak menguasai perbendaharaan kata dan sudah bisa melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain di sekitarnya.

Menjadi Model Yang Terbaik

Orangtua merupakan Contoh atau model utama dari anak-anaknya. Orangtua harus bisa mengendalikan diri saat bertingkah laku di depan anak-anaknya dan  mendorong anak untuk berperilaku secara positif. Orangtua harus memberi contoh bagaimana mengatasi kemarahan dan kekecewaannya dengan sikap tenang dan bantulah anak memehami apa yang diteladaninya.

Bersikap Konsekuen

Bicarakanlah terlebih dahulu aturan-aturan yang harus ditaati anak. Dan buatlah kesepakatan bersama serta apa hukumannya jika anak melanggar aturan tersebut untuk mengajarkan konsekuensi. Jelaskan tujuan serta alasan kita menerapkan aturan tersebut dengan bahasa yang mudah dimengerti. Jelaskan pula mengapa aturan-aturan tersebut berbeda-beda untuk orang yang berbeda. Dan jika peraturan antara orangtua dan anak kebetulan sama orangtua harus bisa menjadi panutan dengan bersikap konsekuen bila melanggar aturan dan harus mau menerima konsekuensinya.

Sumber : “Membantu Anak Balita Mengelola Amarahnya” Seri Cerdas Emosi dari Kak Seto Mulyadi

Strategi Untuk Mencerdaskan Emosi pada Anak

•31 Mei 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

 

children cry

repost dari sebuah blog juga..berniat sebagai arsip pribadi :)

Anak pada usia dini belum memiliki pengertian, mereka hanya bisa menirukan ekspresi dari orangtua atau orang-orang yang dekat dengannya. Untuk itu Anak harus belajar bagaimana mengeksplorasi perasaannya. Fungsi dari mengeksplorasi perasaan adalah untuk membantu anak mengenali dan memahami dirinya sendiri untuk membantu anak membentuk suatu pengertian akan perasaan-perasaannya sendiri tentang berbagai peristiwa, harapan-harapannya akan sesuatu, cita-citanya, minatnya dan potensinya. Untuk mencerdaskan emosi anak bisa kita lakukan dengan strategi sbb: Lanjutkan membaca ‘Strategi Untuk Mencerdaskan Emosi pada Anak’

Diet ala Rosul

•31 Mei 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

Mengutip artikel dari sebuah blog

Jangan makan susu dan daging

Jangan makan daging dan ikan

Jangan makan ikan dan susu

Jangan makan ayam dan susu

Jangan makan ikan telur

Jangan makan ikan daun salada

Jangan makan susu dan cuka

Jangan makan buah dan susu

Jangan sesekali tinggal makan malam (cepat tua dan kolestrol tinggi)

Makan buah sebelum makan nasi

Tidur siang 1 jam setelah makan siang

semoga bermanfaat, at least untukku sendiri 

saya kembali

•26 Februari 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

akhirnya saya kembali..

setelah menghilang lamaaa sekali.

meski saya tidak tahu apakah saya bisa kembali lagi dalam waktu dekat ini.

Hai penghuni ngerumpi, miz u so..

Terima kasih untuk supportnya..

cerita kalian benar-benar menginspirasi.saya jadi silent reader ajah yah…

Luv u all

Aku mencintaimu…Asing..

•10 April 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

 

Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Qs. Ar. Ruum (30) : 21).

Sepenggal ayat itu, udah bener-bener aku alami sendiri. Proses perkenalan singkat kami, tidak menggoyahkan keyakinan kami untuk menikah. Hanya 6 bulan kami pacaran, itupun sudah termasuk acara meminang, lamaran (meminang sama lamaran sama ngga siy) dan pernikahan itu sendiri. Hanya 6 bulan. Mungkin bagi kebanyakan orang, itu waktu yang sangat singkat.

 

Jujur kuakui, aku nyaris tak mengenal karakternya, aku bahkan sempat mengalami rasa ragu, ingin mundur dan rasa ketakutan lainnya. Takut dia tidak setia, takut dia tidak romantis, takut dia ternyata suka marah, takut dia ngga bisa bahagian aku, dan sejuta ketakutan wajar yang pasti dialami oleh wanita yang akan menikah meski keputusan menikah itu telah melewati masa pacaran yang panjang. Jadi mereka yang pacaran lama aja kadang ragu apalagi aku…

Tapi, di usia kedua pernikahanku, aku mulai mengenal karakternya. satu persatu dalam kurun 2 tahun ini, banyak yang bisa kupelajari dari keterasingan kami (maksudnya kami sama-sama saling merasa asing, gituuu…).

Aku orang yang paling bisa memotivasi orang (kata temen-temen sih). Ya wajarlah…pekerjaanku berhubungan dengan orang-orang yang sering kehilangan semangat, down, kena kasus dan dihujat banyak orang, jadi aku lebih sering jadi recycle bin buat orang-orang. Aku seneng dengan semua itu,,,padahal sebenarnya, aku sendiri orang lebih butuh dimotivasi daripada memotivasi. Saking rapuhnya aku, aku jadi terlihat sering mengeluh dan tidak pandai bersyukur. Tapi dia tidak pernah memberiku ceramah atau wejangan-wejangan basa basi yang gombal seperti kalo aku curhat sama yang lain. Dia hanya mendengar, manggut-manggut, lalu komentar yang “mak jleb” pendek tapi dalem…kayak waktu aku cerita tentang pengemis itu.

Ah…..aku makin mencintamu

Mengutip status teman di FB..” Indahnya bertemu dengan orang yang sama sekali tidak kita kenal dan pelan-pelan menemukan detail yang pantas dicintai pada kepribadiannya…”

Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Qs. Ar. Ruum (30) : 21).

Sepenggal ayat itu, udah bener-bener aku alami sendiri. Proses perkenalan singkat kami, tidak menggoyahkan keyakinan kami untuk menikah. Hanya 6 bulan kami pacaran, itupun sudah termasuk acara meminag, lamaran dan pernikahan itu sendiri. Hanya 6 bulan. Mungkin bagi kebanyakan orang, itu waktu yang sangat singkat.

Jujur kuakui, aku nyaris tak mengenal karakternya, aku bahkan sempat mengalami rasa ragu, ingin mundur dan rasa ketakutan lainnya. Takut dia tidak setia, takut dia tidak romantis, takut dia ternyata suka marah, takut dia ngga bisa bahagian aku, dan sejuta ketakutan wajar yang pasti dialami oleh wanita yang akan menikah meski keputusan menikah itu telah melewati masa pacaran yang panjang. Jadi mereka yang pacaran lama aja kadang ragu apalagi aku…

Tapi, di usia kedua pernikahanku, aku mulai mengenal karakternya. satu persatu dalam kurun 2 tahun ini, banyak yang bisa kupelajari dari keterasingan kami (maksudnya kami sama-sama saling merasa asing, gituuu…).

Aku orang yang paling bisa memotivasi orang (kata temen-temen sih). Ya wajarlah…pekerjaanku berhubungan dengan orang-orang yang sering kehilangan semangat, down, kena kasus dan dihujat banyak orang, jadi aku lebih sering jadi recycle bin buat orang-orang. Aku seneng dengan semua itu,,,padahal sebenarnya, aku orang yang sangat rapuh dan lebih butuh dimotivasi daripada memotivasi. Saking rapuhnya aku, aku jadi terlihat sering mengeluh dan tidak pandai bersyukur. Tapi dia tidak pernah memberiku ceramah atau wejangan-wejangan basa basi yang gombal seperti kalo aku curhat sama yang lain. Dia hanya mendengar, manggut-manggut, lalu komentar yang “mak jleb” pendek tapi dalem…kayak waktu aku cerita tentang pengemis itu.

Ah…..aku makin mencintamu

 

Mengutip status teman di FB..” Indahnya bertemu dengan orang yang sama sekali tidak kita kenal dan pelan-pelan menemukan detail yang pantas dicintai pada kepribadiannya…”

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.